Mongabay Indonesia Podcast
Bicara soal alam
info_outline
Mongabay Snaps: Suara dan Perjuangan Warga untuk Keadilan Iklim
04/30/2026
Mongabay Snaps: Suara dan Perjuangan Warga untuk Keadilan Iklim
Mongabay Snaps merupakan program Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/41072160
info_outline
Mongabay Snaps: El-Nino Godzilla, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata
04/07/2026
Mongabay Snaps: El-Nino Godzilla, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata
Mongabay Snaps merupakan program dua mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/40753460
info_outline
Mongabay Snaps: Lima Cerita Lingkungan yang Menemani Perjalanan Mudikmu
03/18/2026
Mongabay Snaps: Lima Cerita Lingkungan yang Menemani Perjalanan Mudikmu
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/40526805
info_outline
Mongabay Snaps: Bisakah Keterbukaan Informasi dan Hukum Menjaga Lingkungan?
03/10/2026
Mongabay Snaps: Bisakah Keterbukaan Informasi dan Hukum Menjaga Lingkungan?
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan, sebulan atau setahun.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/40377705
info_outline
Politik Tata Kelola Bencana: Bercermin Dari Banjir di Indonesia
03/02/2026
Politik Tata Kelola Bencana: Bercermin Dari Banjir di Indonesia
Banjir datang, menggenangi permukiman, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan memaksa ribuan orang mengungsi. Namun setiap kali air surut, penjelasan yang mengemuka hampir selalu sama: hujan ekstrem, perubahan iklim, atau kapasitas sungai yang tak lagi memadai. Narasi ini seolah menempatkan banjir sebagai takdir alamiah yang tak terhindarkan. Padahal, di balik luapan air itu, terdapat rangkaian keputusan politik, tata ruang, dan kepentingan ekonomi yang membentuk siapa yang paling terdampak dan siapa yang diuntungkan dari pembangunan yang terus berlangsung. Di banyak kota di Indonesia, alih fungsi lahan, ekspansi kawasan properti, serta proyek infrastruktur skala besar berjalan beriringan dengan melemahnya daya dukung lingkungan. Kawasan resapan menyusut, bantaran sungai dipadati bangunan, dan izin pembangunan kerap terbit tanpa pengawasan memadai. Dalam konteks ini, banjir bukan lagi sekadar persoalan hidrologi, melainkan cerminan bagaimana ruang dikelola dan untuk kepentingan siapa kebijakan disusun. Risiko bencana lahir dari interaksi antara faktor alam dan pilihan-pilihan struktural yang dibuat manusia. Diskusi antara Mongabay Indonesia dan Dr. Yogi Setya Permana yang merupaka Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti bahwa tata kelola bencana di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ekonomi politik kuasa. Relasi antara politisi, pengusaha, dan birokrasi sering kali menentukan arah perencanaan kota, termasuk dalam hal pengendalian banjir. Ketika kepentingan jangka pendek dan kalkulasi elektoral lebih dominan dibanding perlindungan lingkungan dan keselamatan warga, regulasi tata ruang menjadi mudah dinegosiasikan, bahkan diabaikan. Diskusi ini membaca banjir sebagai persoalan politik dan tata kelola membuka ruang refleksi yang lebih mendalam tentang solusi yang dibutuhkan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/40276270
info_outline
Mongabay Snaps: Eksploitasi Tanpa Rem, Catatan Bencana dan Konflik Sumber Daya Alam
02/16/2026
Mongabay Snaps: Eksploitasi Tanpa Rem, Catatan Bencana dan Konflik Sumber Daya Alam
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/40122665
info_outline
Mongabay Snaps: Cerita dari Spesies Terancam hingga Warga Melawan
02/02/2026
Mongabay Snaps: Cerita dari Spesies Terancam hingga Warga Melawan
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39959425
info_outline
Mongabay Snaps: 10 Artikel Pilihan Pembaca Tahun 2025
01/09/2026
Mongabay Snaps: 10 Artikel Pilihan Pembaca Tahun 2025
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39670960
info_outline
Mongabay Snaps:
12/19/2025
Mongabay Snaps:
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39465955
info_outline
Habitat yang Tak Pernah Tercatat: Mengungkap Populasi Orangutan di Tempat Tak Terduga
12/15/2025
Habitat yang Tak Pernah Tercatat: Mengungkap Populasi Orangutan di Tempat Tak Terduga
Hutan Lumut selama ini hanya dipandang sebagai hamparan gambut biasa di pinggiran lanskap besar Sumatra, jauh dari pusat perhatian konservasi. Namun sebuah penemuan lapangan mengubah cara pandang itu: orangutan Tapanuli ternyata hidup dan bertahan di sana, di luar kawasan utama Batang Toru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya rumah mereka. Di tengah pepohonan gambut yang lembap dan sunyi di Desa Lumut Maju, jejak kehadiran orangutan Tapanuli menyingkap kemampuan adaptasi yang tak banyak diketahui. Mereka tidak hanya hidup di hutan pegunungan yang rapat dan sejuk, tetapi juga mampu bertahan di ekosistem yang sangat berbeda, dengan struktur vegetasi, ketersediaan pakan, dan tantangan ekologis yang lain sama sekali. Cerita ini menggugurkan anggapan lama bahwa spesies ini memiliki toleransi habitat yang sempit, sekaligus memperlihatkan betapa pengetahuan manusia tentang alam masih penuh celah. Namun kisah ini bukan hanya tentang penemuan, melainkan juga tentang kerentanan. Berbeda dengan Batang Toru yang memiliki status konservasi lebih jelas, Hutan Lumut berada di ruang abu-abu: kawasan tanpa perlindungan formal, rawan pembukaan lahan, tumpang tindih kepentingan, dan minim pengawasan. Di sinilah orangutan harus berbagi ruang dengan aktivitas manusia, menghadapi risiko perburuan, konflik, dan fragmentasi habitat yang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Temuan ini menjadi titik awal diskusi mendalam melalui program Bincang Alam yang digelar Mongabay Indonesia bersama Syafrizaldi Jpang, Direktur Eksekutif Orangutan Information Centre (OIC), yang membuka kisah tentang habitat yang luput dari peta, data, dan kebijakan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39406130
info_outline
Mongabay Snaps: Di Tengah Krisis Ekologi, Warga Bergerak dan Melawan
12/12/2025
Mongabay Snaps: Di Tengah Krisis Ekologi, Warga Bergerak dan Melawan
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39378040
info_outline
Mongabay Snaps: Lima Cerita Kerentanan di Tengah Geliat Pembangunan
12/05/2025
Mongabay Snaps: Lima Cerita Kerentanan di Tengah Geliat Pembangunan
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39289440
info_outline
Mongabay Snaps: Perebutan Ruang Hidup Atas Nama Pembangunan
11/28/2025
Mongabay Snaps: Perebutan Ruang Hidup Atas Nama Pembangunan
Mongabay Snaps merupakan program mingguan Mongabay Indonesia yang mengulas lima artikel. Tiap Jumat pukul 16.00, program ini akan hadir menemani pembaca dan menceritakan kejadian dalam sepekan
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39196130
info_outline
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
11/21/2025
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39120630
info_outline
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
11/14/2025
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/39035550
info_outline
Menyiapkan Suara Masyarakat Sipil Indonesia untuk COP30 Brasil
11/07/2025
Menyiapkan Suara Masyarakat Sipil Indonesia untuk COP30 Brasil
Konferensi Para Pihak (COP) selalu menjadi pertemuan besar yang mempertemukan berbagai kepentingan: politik, ekonomi, dan lingkungan. Isu perubahan iklim terus menjadi perhatian global, terutama menjelang Konferensi Para Pihak (COP30) yang akan digelar di Belém, Brasil, pada November 2025. Forum ini diharapkan menjadi momentum penting bagi negara-negara dunia untuk memperkuat komitmen pengurangan emisi, meninjau hasil Global Stocktake dari COP sebelumnya, serta menegaskan langkah konkret menuju transisi energi yang berkeadilan. Menjelang COP30 juga, berbagai organisasi masyarakat sipil tengah bersiap memperkuat posisi dan kontribusi Indonesia dalam forum global tersebut, salah satunya Madani Berkelanjutan (Madani). Bagi Madani, kehadiran masyarakat sipil di forum ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan narasi. Lembaga ini berfokus pada tata kelola guna lahan yang berkelanjutan, serta mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan dan pembangunan rendah karbon. Keberlanjutan tidak bisa hanya diukur dari target emisi, tetapi juga dari sejauh mana perubahan itu menghadirkan keadilan sosial dan ekonomi bagi masyarakat di akar rumput. Dalam persiapan menuju COP30 di Brasil, Madani bersama koalisi masyarakat sipil menyerukan tiga tuntutan utama, sebagai langkah menuju masa depan yang lebih berkeadilan bagi planet ini. Apa saja tuntutan tersebut? Simak diskusi bersama Nadia Hadad yang merupakan Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan sebagai narasumber dalam episode “Bincang Alam” yang membahas bagaimana agenda COP30 dapat mencakup mitigasi, adaptasi, dan mekanisme pasar karbon yang dapat selalu dikawal agar berpihak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar kepentingan bisnis global.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/38947360
info_outline
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
11/01/2025
Mongabay Snaps: Lima Artikel dalam Sepekan
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel dalam sepekan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/38871035
info_outline
Teknologi Genomik Pelacak DNA Satwa Laut: Inovasi Pelacakan Akurat untuk Produk Perikanan
10/27/2025
Teknologi Genomik Pelacak DNA Satwa Laut: Inovasi Pelacakan Akurat untuk Produk Perikanan
Inovasi terbaru di bidang perikanan menunjukkan bahwa di balik sepiring hasil laut yang kita nikmati, tersembunyi tantangan besar terkait keaslian spesies dan keberlanjutan ekosistem. Tim riset dari IPB University di bawah kepemimpinan Prof. Asadatun Abdullah telah mengembangkan teknologi genomik bernama “Hi‑Par Meter” dan “True Portunus” yang memungkinkan identifikasi spesies laut (khususnya hiu, pari, dan rajungan) dengan cepat, bahkan dari produk olahan yang sudah sulit dikenali morfologinya. Kedua alat ini memanfaatkan teknik DNA barcoding, PCR, LAMP dan teknologi sequencing untuk mendeteksi spesies secara akurat dan portabel, sehingga bukan hanya mempermudah industri perikanan, tapi juga memainkan peran penting dalam pelestarian spesies terancam dan pemenuhan regulasi internasional seperti CITES. Dengan langkah ini, kita melihat persimpangan penting antara teknologi, keamanan pangan, kejujuran rantai pasok, dan konservasi laut: bukan hanya soal “apakah ikan ini benar spesies yang tertulis” tetapi juga “apakah cara kita menangkap, mengolah, dan memperdagangkannya ramah lingkungan dan sah”. Simak diskusi mendalam bersama Prof. Asadatun Abdullah sebagai narasumber dalam episode “Bincang Alam” yang membahas bagaimana riset dan invovasi ini bisa diterjemahkan ke lapangan—mulai dari pelabuhan, pasar tradisional hingga ekspor—dalam upaya mewujudkan rantai produk perikanan yang transparan, berkelanjutan, dan bertanggung-jawab. Foto: Rekam Nusantara Foundation
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/38790345
info_outline
Danau Sentani: Ruang Hidup, Temuan Arkeologi, dan Penelusuran Jejak Leluhur Papua
10/19/2025
Danau Sentani: Ruang Hidup, Temuan Arkeologi, dan Penelusuran Jejak Leluhur Papua
Danau Sentani di Papua bukan sekadar hamparan air yang memesona dari pesawat ketika mendarat di Jayapura. Ia adalah ruang hidup yang memadukan sejarah panjang, kearifan ekologis, dan tradisi budaya yang masih berdenyut hingga kini. Dari rumah panggung yang terapung di tepian, hutan sagu yang menjadi sumber pangan, hingga lukisan kulit kayu yang merekam jejak leluhur — danau ini menghadirkan kisah keterhubungan manusia dengan alam yang jarang ditemui di tempat lain. Namun, di balik keindahan ini, terdapat tantangan yang menggerus jantung ekosistem Danau Sentani. Pencemaran dari limbah rumah tangga, beralih fungsi kawasan hutan sagu, serta tekanan pengembangan tambang nikel di pegunungan sekitarnya menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan ekologi dan budaya danau ini. Simak diskusinya bersama Hari Suroto, Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam sesi “Bincang Alam” yang membahas masa lalu, tantangan saat ini, dan strategi pelestarian masa depan Danau Sentani.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/38637685
info_outline
Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli
10/16/2025
Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) adalah satu dari kera besar paling langka di dunia, dengan populasi kurang dari 800 individu yang kini tersebar dalam metapopulasi Blok Barat dan Blok Timur di ekosistem Batang Toru. Sebagai spesies endemik dan sangat rentan, mereka menghadapi tekanan berat akibat fragmentasi habitat, terutama dari proyek PLTA, tambang emas, serta ekspansi perkebunan dan infrastruktur. Meski demikian, adaptasi ekologisnya luar biasa: hidup di elevasi 300–1.300 m di atas permukaan laut, memanfaatkan berbagai sumber pakan alternatif ketika buah langka, dan bertahan dalam kondisi isolasi genetik tinggi. Peran ekologis orangutan Tapanuli sangat penting, mereka menjaga kesehatan hutan melalui penyebaran biji dan menjaga dinamika komunitas tumbuhan. Namun upaya konservasi tidak hanya soal teknik pelestarian. Konsep koeksistensi (manusia dan satwa hidup berdampingan) menjadi kunci, ketimbang solusi radikal seperti relokasi massal. Dukungan sosial, kebijakan publik, riset genetik dan spasial, serta penguatan kapasitas lokal juga sangat dibutuhkan untuk menjaga integritas populasi dan mencegah degradasi habitat lebih lanjut. Simak diskusi mendalam bersama Panut Hadisiswoyo, pendiri Yayasan Orangutan Sumatera Lestari / Orangutan Information Centrem sebagai narasumber dalam pembahasan ini, tentang tantangan, peluang, dan makna moral konservasi orangutan Tapanuli di masa depan.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/38592980
info_outline
Nikel: Mimpi Orang Kota, Mimpi Buruk Bagi Pulau
06/17/2025
Nikel: Mimpi Orang Kota, Mimpi Buruk Bagi Pulau
Episode perdana BTS: Berita Tanpa Sensor dari Mongabay Indonesia, jurnalis Lusia Arumingtyas dan Riza Salman membedah realitas getir dari hilirisasi tambang nikel di pulau-pulau kecil Indonesia, khususnya Sulawesi dan Raja Ampat. Bukan sekadar soal logam untuk baterai mobil listrik, ini adalah kisah tentang rusaknya ekosistem, lenyapnya ruang hidup, dan hancurnya harapan warga pulau. Satu baterai mobil listrik setara dengan hilangnya satu hektar kebun cengkeh produktif yang dulunya mampu menghidupi beberapa generasi. Riza bercerita pengelaman jurnalistiknya yang sangat membekas, mulai dari pencemaran air, anak-anak sakit kulit, mata pencaharian musnah, dan konflik sosial meretakkan keluarga. dia melihat langsung bagaimana pertambangan telah memutuskan generasi. Satu hektar lahan cengkeh produktif, yang dulu bisa menyekolahkan anak-anak dan menghidupi beberapa turunan, kini berubah menjadi debu, lumpur, dan konflik sosial. "Laut adalah ibu bagi masyarakat pesisir yang oleh perempuan pesisir itu tidak perlu repot untuk mendapatkan sumber pakan ketika air surut ada namanya, meti mereka menangkap Habitat habitat di pesisir itu sudah nggak ada lagi," ujar Riza. Di tengah semua itu, hukum sering kali hanya jadi formalitas. Secara hukum, pulau-pulau kecil di bawah 2.000 km² tidak boleh ditambang. Namun, celah administratif—penggunaan batas wilayah kecamatan, bukan pulau—dimanfaatkan untuk menerbitkan izin tambang. Misalnya saja saat masyarakat mengugat PT Gema Kreasi Perdana, anak usaha Harita Group di Pulau Wawonii. Lima kali warga Wawonii menang di pengadilan, tapi tambang tetap beroperasi. Lebih jauh, sedimentasi dari tambang terbukti mencemari laut hingga ratusan kilometer jauhnya, mengancam ekosistem laut Banda yang jadi jantung segitiga karang dunia. Riza juga menyinggung tentang genosida ekologis terhadap Suku Bajo—masyarakat laut yang kehidupannya sangat bergantung pada ekosistem pesisir. Mereka kehilangan ruang hidup, tidak bisa bertani, dan kini hanya bisa mengandalkan laut yang semakin miskin. Di sinilah letak ironi besar: energi hijau yang katanya ramah lingkungan justru menghancurkan kehidupan masyarakat lokal. Di tengah isu Save Raja Ampat yang kini viral, episode ini jadi pengingat bahwa banyak pulau lain yang sunyi dan tanpa sorotan publik tengah mengalami nasib serupa. Kini giliran kita bersuara. Karena kalau kita tak mampu menyelamatkan pulau-pulau kecil, bagaimana bisa kita melindungi negeri ini secara utuh?
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/37048625
info_outline
Sang Predator Puncak: Menerawang Nasib Macan Tutul Jawa
06/15/2025
Sang Predator Puncak: Menerawang Nasib Macan Tutul Jawa
Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa, setelah harimau Jawa dinyatakan punah. Sebagai subspesies endemik dengan status terancam punah (Endangered), keberadaan macan tutul kini menghadapi tekanan besar akibat fragmentasi habitat, perambahan lahan, serta konflik dengan manusia. Meskipun begitu, daya adaptasi ekologisnya yang tinggi, mampu hidup di berbagai jenis bentang alam dari pegunungan hingga mangrove, membuatnya masih bertahan. Peran ekologis macan tutul sangat penting sebagai pengendali populasi mangsa, yang berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Ia juga menyimpan potensi besar dalam ekowisata berbasis konservasi, seperti melalui pemantauan kamera jebak yang bisa melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Namun demikian, makna budaya terhadap macan tutul telah banyak berubah. Selain upaya teknis, konservasi juga memerlukan dukungan sosial dan politik, termasuk kampanye yang mampu membangkitkan kembali nilai-nilai lokal dan semangat pelestarian satwa liar Jawa. Jika tidak ada langkah nyata dan terintegrasi, bukan tidak mungkin macan tutul Jawa akan mengikuti jejak harimau Jawa sebagai bagian dari sejarah yang terlambat diselamatkan. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/36996760
info_outline
Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam
03/18/2025
Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam
Mikroplastik telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin mendesak. Limbah plastik yang terus meningkat berkontribusi terhadap penyebaran partikel mikroplastik di udara, tanah, dan air. Partikel ini tidak kasat mata tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia, seperti dalam darah, urine, dan feses, yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk fungsi otak. Greenpeace bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, khususnya pada sistem saraf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik memiliki korelasi dengan gangguan kognitif. Temuan ini semakin memperkuat bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memengaruhi fungsi neurologis. Mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta kontak dengan kulit. Plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai menjadi sumber utama paparan. Selain itu, industri plastik yang terus berkembang semakin meningkatkan pencemaran mikroplastik di lingkungan. Pengurangan produksi dan konsumsi plastik menjadi langkah utama yang perlu diambil. Pemerintah harus mempercepat regulasi pelarangan plastik sekali pakai, sementara produsen harus beralih ke sistem guna ulang dengan kemasan yang lebih aman seperti kaca atau stainless steel. Konsumen juga harus lebih sadar dalam memilih produk yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran dan aksi nyata dalam mengurangi konsumsi plastik, mendukung regulasi yang lebih ketat, dan memilih alternatif yang lebih aman dapat membantu melindungi kesehatan manusia serta lingkungan dari ancaman mikroplastik yang semakin serius. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35718200
info_outline
Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam
03/17/2025
Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam
Mikroplastik telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan yang semakin mendesak. Limbah plastik yang terus meningkat berkontribusi terhadap penyebaran partikel mikroplastik di udara, tanah, dan air. Partikel ini tidak kasat mata tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia, seperti dalam darah, urine, dan feses, yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk fungsi otak. Greenpeace bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, khususnya pada sistem saraf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik memiliki korelasi dengan gangguan kognitif. Temuan ini semakin memperkuat bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memengaruhi fungsi neurologis. Mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup, makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta kontak dengan kulit. Plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai menjadi sumber utama paparan. Selain itu, industri plastik yang terus berkembang semakin meningkatkan pencemaran mikroplastik di lingkungan. Pengurangan produksi dan konsumsi plastik menjadi langkah utama yang perlu diambil. Pemerintah harus mempercepat regulasi pelarangan plastik sekali pakai, sementara produsen harus beralih ke sistem guna ulang dengan kemasan yang lebih aman seperti kaca atau stainless steel. Konsumen juga harus lebih sadar dalam memilih produk yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran dan aksi nyata dalam mengurangi konsumsi plastik, mendukung regulasi yang lebih ketat, dan memilih alternatif yang lebih aman dapat membantu melindungi kesehatan manusia serta lingkungan dari ancaman mikroplastik yang semakin serius. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/36765755
info_outline
Episode 6: Mongabay Snaps 7 Maret
03/11/2025
Episode 6: Mongabay Snaps 7 Maret
Mongabay Snaps merupakan program berupa live instagram secara spontan setiap minggunya, pada Jumat pukul 16.00. Program ini akan membahas lima artikel paling populer dan informasi terkini tentang isu lingkungan. Berikut ini 5 artikel Mongabay Snaps pada periode 25 Februari- 3 Maret 2025 1. Petani Desa Gunung Anten, Lebak, Banten khawatir dengan adanya penyerobotan tanah yang dilakukan oleh organisasi masyarakat. Mereka diintimidasi dan menganggu aktivitas para petani. Tulisan dari Irfan Maulana: 2. Bagaimana kabar masyarakat di Kabaena, pulau kecil di Sulawesi Tenggara? Ambisi pemerintah sebagai pemain utama nikel mengubah lanskap lingkungan dan sosial masyarakat setempat. Tulisan dari Riza Salman 3. Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) atau Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) di Kalimantan Utara sudah mulai kontruksi sejak 2021. Masyarakat pesisir dan nelayan pun mulai merasakan dampak kehadiran proyek strategis nasional ini. Tulisan dari Abdallah Naem 4. Kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) makin sulit, terlebih sejak hutan di wilayah di Kabupaten Batanghari, Jambi, terbabat perusahaan sawit dan tambang batubara pada 2019. Bagaimana kabar hari ini? Tulisan dari Teguh Suprayitno 5. Konflik petani Padang Halaban dengan perusahaan sawit Sinar Mas ini sudah terjadi sejak 2012. Petani ditangkap, seorang anak diduga tertembak polisi, bahkan Komnas HAM turut mengadvokasi isu ini. Tulisan dari Achmad Rizki Muazam
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35630035
info_outline
Berkenalan Dengan Owa Kebanggaan Indonesia
03/05/2025
Berkenalan Dengan Owa Kebanggaan Indonesia
Owa, atau gibbon, adalah primata arboreal yang menjadi kebanggaan Indonesia. Dari 20 spesies owa yang ada di dunia, sembilan di antaranya dapat ditemukan di hutan-hutan Indonesia, tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Sebagai satwa arboreal, owa menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon, bergerak dengan lincah menggunakan lengannya yang panjang—a metode bergerak yang dikenal sebagai brachiation. Setiap spesies owa memiliki karakteristik unik. Misalnya, owa jawa (Hylobates moloch) yang endemik di Jawa Barat, dikenal dengan bulu abu-abunya dan suara panggilan pagi yang khas. Di Sumatra, terdapat owa siamang (Symphalangus syndactylus), spesies terbesar di antara owa, yang memiliki kantung suara besar untuk menghasilkan vokalisasi nyaring. Sementara itu, owa kalawat (Hylobates muelleri) menghuni hutan-hutan Kalimantan dengan ciri khas wajah tanpa bulu dan perilaku sosial yang kompleks. Perilaku sosial owa sangat menarik untuk dipelajari. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil yang monogami, terdiri dari pasangan induk dan anak-anaknya. Aktivitas harian owa biasanya dimulai dengan vokalisasi pagi, yang berfungsi untuk menandai wilayah dan memperkuat ikatan pasangan. Selain itu, perilaku grooming atau saling membersihkan bulu juga umum dilakukan untuk mempererat hubungan sosial dalam kelompok. Sayangnya, populasi owa di Indonesia menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal. Misalnya, owa jawa saat ini berstatus terancam punah dengan populasi yang terus menurun. Upaya konservasi, seperti perlindungan habitat dan rehabilitasi satwa, sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies-spesies owa ini. Masyarakat juga diharapkan berperan aktif dalam menjaga kelestarian owa, mengingat peran penting mereka dalam ekosistem. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35546140
info_outline
Jembatan Kanopi: Bisakah Jadi Salah Satu Solusi Konektivitas Habitat Satwa Liar?
03/05/2025
Jembatan Kanopi: Bisakah Jadi Salah Satu Solusi Konektivitas Habitat Satwa Liar?
Pembangunan infrastruktur fisik, seperti jalan lintas, sering kali menyebabkan fragmentasi hutan yang menghambat pergerakan satwa liar. Kondisi ini dapat mengisolasi populasi satwa dalam petak-petak hutan yang terpisah, mengancam kelangsungan hidup mereka. Untuk mengatasi masalah ini, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), sebuah LSM berbasis di Sumatera Utara, telah mengembangkan solusi inovatif. Mereka membangun jembatan kanopi di atas jalan lintas sebagai penghubung bagi satwa liar. Inisiatif ini bertujuan memulihkan konektivitas habitat yang terfragmentasi, memungkinkan individu dan populasi satwa berinteraksi tanpa terisolasi. Pendekatan TaHuKah tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan konservasi alam dapat berjalan beriringan. Dengan mengadopsi solusi seperti jembatan kanopi, kita dapat menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Indonesia dan memastikan kelestarian satwa liar di dalamnya. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35546130
info_outline
Kearifan Lokal dan Relasi Sosial Suku Baduy Dalam Adaptasi Krisis Iklim
03/05/2025
Kearifan Lokal dan Relasi Sosial Suku Baduy Dalam Adaptasi Krisis Iklim
Diskusi ini membahas kearifan lokal dan relasi sosial Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim, dengan narasumber Dr. Ulfa Sevia Azni, S.Sos. - Research Center for Social Welfare, Village, and Connectivity, National Research and Innovation Agency (PR-KSDK BRIN). Beliau berbagi pengalamannya mengunjungi Baduy Dalam dan belajar tentang kehidupan mereka yang sederhana dan harmonis dengan alam. Suku Baduy, yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, dikenal karena tradisi leluhur mereka yang kuat dan penolakan terhadap modernisasi. Mereka hidup tanpa listrik, kendaraan, dan teknologi modern lainnya, dan sangat menjaga kelestarian alam melalui aturan adat yang ketat, seperti larangan menebang pohon sembarangan dan penggunaan bahan kimia. Prinsip hidup mereka didasarkan pada filosofi "pikukuh," yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial. Diskusi ini juga menyoroti bagaimana Suku Baduy beradaptasi dengan perubahan iklim melalui praktik pertanian alami, kemampuan membaca tanda-tanda alam, dan gaya hidup dengan jejak karbon rendah. Gotong royong dan warisan lisan memainkan peran penting dalam menjaga harmoni dan keberlanjutan komunitas mereka. Dr. Ulfa mengajak pendengar untuk belajar dari Suku Baduy dan menerapkan prinsip-prinsip hidup sederhana, menjaga alam, dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi juga membahas tantangan yang dihadapi Suku Baduy dalam menghadapi krisis iklim yang semakin parah, dan pentingnya dukungan eksternal seperti bantuan pemerintah, teknologi, dan perlindungan hukum untuk wilayah adat mereka. Dr. Ulfa menekankan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan adaptasi di era perubahan iklim. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35541755
info_outline
Walhi x Mongabay Indonesia: Omon-omon Hutan, Sawit dan Deforestasi
01/07/2025
Walhi x Mongabay Indonesia: Omon-omon Hutan, Sawit dan Deforestasi
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengadakan diskusi bertajuk Omon-omon Hutan, Sawit dan Deforestasi untuk membahas ancaman deforestasi serta kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh perkebunan sawit. Diskusi ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan Presiden Prabowo yang menyatakan bahwa perkebunan sawit tidak menyebabkan deforestasi dan justru mampu menyerap karbon. Pernyataan ini menuai kontroversi mengingat berbagai data yang menunjukkan dampak negatif industri sawit terhadap hutan dan ekosistem. Selain itu, perubahan logo Kementerian Kehutanan yang menyerupai pohon sawit turut menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. WALHI menilai bahwa perubahan ini dapat memberikan citra positif yang keliru terhadap industri sawit, mengabaikan fakta mengenai kerusakan lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati akibat ekspansi perkebunan sawit. Simbolisasi ini dikhawatirkan semakin menguatkan narasi bahwa sawit tidak memiliki dampak buruk terhadap hutan Indonesia. Rencana pemerintah untuk membuka hutan seluas 20 juta hektar guna memperluas perkebunan sawit juga mendapat kritik tajam. WALHI menilai kebijakan ini berpotensi memperparah deforestasi dan memicu berbagai bencana ekologis, seperti kebakaran hutan, kekeringan, serta banjir. Selain itu, ekspansi sawit sering kali melibatkan praktik-praktik korupsi dalam penerbitan izin lahan, memperlihatkan lemahnya tata kelola di sektor ini. Ancaman kerusakan lingkungan akibat ekspansi perkebunan sawit mencakup hilangnya hutan primer, rusaknya habitat satwa, dan peningkatan emisi karbon akibat pembukaan lahan secara besar-besaran. WALHI menyerukan perlunya kebijakan yang lebih berkelanjutan dan transparan dalam pengelolaan perkebunan sawit, serta penguatan regulasi untuk melindungi hutan dari praktik-praktik eksploitasi yang merugikan lingkungan dan masyarakat. Kunjungi website Mongabay Indonesia untuk mendapatkan berita-berita terbaru, dan terhangat dari garis depan alam Indonesia:
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35545730
info_outline
Sepuluh Tahun Lagi Tersisa Untuk Menyelamatkan Gajah Sumatera, Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?
03/14/2021
Sepuluh Tahun Lagi Tersisa Untuk Menyelamatkan Gajah Sumatera, Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?
Gajah Sumatera merupakan gajah asia kecil yang jumlahnya semakin menipis karena habitat hutan dataran rendahnya banyak dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Para ahli mengatakan bahwa Indonesia hanya memiliki 10 tahun untuk membalikkan tren ini dan menyelamatkan mereka dari kepunahan abadi.
/episode/index/show/20ea8632-e3ac-4148-8b60-70dbf2517322/id/35572760